Friday, October 23, 2015

This is a story about a friend.

This is a story about a friend. 

I met her for the first time in a crowded welcoming party in of new Indonesian students (or other occasion I am not sure haha). What I can recall is we were queueing food and started to introduce ourselves to each other. 

I did not notice her until we met again in a fine afternoon in our friend’s house in Belconnen. And we were happened to meet each other in a weekly meeting with other girls. 

We started to hang out together. Having dinner, going places and taking pictures with our cameras. And of course, we started to talk. 

I cannot tell you what topics we discussed (or we were fought about). Because they were just too many. 

What I can tell you is that I have learned so much from her. 

I have learned that whatever you do, a bad human can be good suddenly, or vice versa, a good human can be bad. Or both at the same time. The point is, don’t judge. Who the heck are we judging somebody? 

I have learned that problems should be solved. Haha. This is silly but for some reasons, I sometimes consider that problems are better left unresolved. But no. Some recent events showed me that there’s no point of letting problems because it will grow, and yes, get worse. When I realise, the problems became so complicated. 

I have learned that human should try their best, whatever it takes. Always remember Surah Al Baqarah: 286 "Allah does not charge a soul except [with that within] its capacity.” Therefore, dont lose hope. 

It seems like the things that I learned were just simple ones. But yes, because they were simple then we (read: I) tend to forget. And surrounded by a good friend like her was a blessing that I should not have taken for granted.

I know I will leave Canberra soon and definitiely will leave her too. But we have technology now. And insya Allah will see her again in my hometown, which also her hometown :D 

So here she is :D


Friday, October 9, 2015

Random Conversation



















I have just arrived at the dorm and tired. Then suddenly got this message on my Facebook. The question came from someone who assisted me on a short research in outside Java and, in fact, we did not talk much afterwards. Nor shared our life stories. Then why would this person feel the urge to ask about my reproduction? After the last sentence that appears above, I politely repeated my answer "Belum, Kak", and I did not get any respond. It means this person contacted me randomly and did not really want to talk to me. And she unfortunately also chose a wrong question for a random conversation. 

Do you think you want to talk about that topic in a sudden conversation? Why would this person think I am going to share my stories in this kind of random way? 


You may think that I am too sensitive. But seriously guys, this person needs to learn to ask better questions. I have been asked about my payment. About when we get married. And now about my pregnancy. In the most random way. Not only by this person. But also by the people who are not even in my second circle of life. Hmmm, or maybe I should replace the "I" into "we"? Or maybe we were the ones who ask other people -who are not even in our second circle -randomly? 

Yes may be Indonesians are such religious people; therefore their questions could be defined as prayers. But if you are really such a religious person, you should have known that the best prayers are the ones that untold to the person who you are prayed for.

Dini is feeling meh.  

Saturday, May 16, 2015

Sapa

Di Australia, setiap bertemu dengan orang dikenal, hampir selalu disapa, "How are you?". Sapaan ini tidak hanya dilakukan oleh orang Australia asli, tetapi juga oleh orang yang sudah terpengaruh tradisi sini. Biasanya, jika disapa oleh kalimat tanya semacam "How are you?", yang disapa menjawab "Hey, I'm fine!", dan dilanjutkan dengan pertanyaan balik semacam "How about you?" untuk menunjukkan kesopanan.

Yang menarik, sapaan "How are you?" tetap digunakan meski yang menyapa dan disapa sedang dalam keadaan terburu-buru. Lucunya, orang sini tetap akan menjawab meski tidak berhenti berjalan sedetik pun. Lha wong yang menyapa juga tidak berhenti kok. Hihi. Ada juga orang yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu, tapi begitu melihat orang yang dikenal tetap disapa "How are you?". Ketika yang disapa menjawab "I am fine" atau jawaban apapun, yang bertanya tidak memperhatikan jawaban yang ditanya karena sibuk melanjutkan aktivitas yang dilakukan. Hihihihi. Begitulah, dalam keadaan tertentu, sapaan "How are you?" lebih berlaku seperti "Hi" atau "Hello", tidak butuh jawaban eksplisit. Menjawab dengan senyum pun tidak masalah, yang penting jangan dicuekin ya :D

Saking seringnya ditanya "How are you?" dan menemui situasi di atas, saya dan teman-teman Indonesia terkadang merasa sapaan itu hanya sekedar basa-basi. Bingung mau jawab serius atau tidak. Basa-basi untuk menunjukkan sikap ramah ga salah kok. Bagus malah. Yang penting jangan terlalu basi saja. Haha. Saya sih biasanya tetap jawab "I am fine" dan bertanya balik "What about you?" meski setelah lawan bicara menjawab "I am fine", tidak ada percakapan apa-apa lagi antara kami. Tapi terkadang "How are you?" itu menolong juga lho, sebagai pertanyaan pamungkas jika kita tidak tahu harus memulai dari mana dengan orang yang baru dikenal.

Di Indonesia? Sapaan pertama dengan orang yang dikenal ketika baru bertemu mungkin jauh lebih beragam. Dan lebih ekstrim. "Kurusan ya kamu", "Gendutan ih, makannya banyak ya?", "Gile udah 2015 masih jomblo aja lu?", "Skripsi/tesis gimana?", "Kapan lulus?", "Kok belum kerja?", "Kapan kawin?", "Kok belum punya anak? Kan udah 3 tahun nikah?", "Anak kamu baru satu? Kapan nih punya anak kedua?", "Anak lo laki semua? tambah dong, perempuan, biar lengkap", dan seterusnya.

Hmmmmm.

Pilih mana? :)))
Sumber: http://www.storenvy.com/products/1014779-austin-hi-how-are-you


Canberra, 16 Mei 2015

Tuesday, March 24, 2015

Iqra Mamak

Bingung ya kenapa saya nulis blog terus? Sama saya juga bingung. Hahaha. Padahal saya harus menyelesaikan proposal tesis sesegera mungkin. Tapi tidak apa-apalah. Saya sudah menisbatkan menulis blog sebagai bentuk pelarian. Escape strategy, istilah kerennya. Meski saya tidak pernah benar-benar bisa lari dari kewajiban tesis (ya iyalah!). 

Kali ini saya ingin bercerita soal ibu saya yang saya panggil mamak. Ya, Mamak dengan 'k' karena kami terpengaruh oleh dialek Kalimantan meski kami secara etnisitas masuk ke dalam kelompok suku Jawa.

Mamak ini orang yang sangat kuat menurut saya. Pendiriannya teguh, meski beliau tidak berpendidikan tinggi. Padahal saya juga tidak yakin apakah benar-benar ada korelasi antara tingkat pendidikan dan teguhnya pendirian. Hehehe. Beliau hanya lulus SMP. Memang mamak sempat duduk di bangku SMA, tetapi di usia 18, ketika kelas 3, beliau dinikahi oleh ayah yang kami panggil Papa. Lalu punya anak kami bertiga.

Mamak tidak bekerja. Sejak ia menikah, papa memintanya berhenti dan menjadi ibu rumah tangga. Tidak ada yang aneh di keluarga kami waktu itu. Kami cuma warga biasa yang beragama Islam KTP sebagaimana kebanyakan penduduk di Indonesia. Ya, kedua orang tua saya (waktu itu) tidak menjalankan sholat lima waktu dan tidak ada paksaan bagi kami anak-anaknya untuk melakukannya. Hanya saja, jika Ramadhan tiba, kami diwajibkan berpuasa, meski tidak diikuti dengan diwajibkan shalat termasuk shalat tarawih. Jika tidak berpuasa, papa akan memarahi kami.

Saya sendiri berpuasa dan shalat lima waktu juga shalat tarawih di bulan Ramadhan-selain takut sama Papa- juga karena sekolah memberikan saya dan murid lainnya Buku Evaluasi Ramadhan (iya betul, yang kuning itu) untuk diisi. Maka saya akan mengisi buku evaluasi itu sesuai dengan amalan ibadah saya. Saya cukup berprestasi secara akademik di sekolah. Tentu saya tidak menginginkan nilai saya jatuh hanya gegara buku evaluasi ramadhan yang bolong-bolong. Saya terlalu pengecut untuk berbohong, karena sejak kecil mamak sudah mengajari saya bahwa berbohong (meskipun itu white lies) tidak baik.

Selain tidak boleh berbohong, mamak juga memasukkan saya ke sekolah Taman Pendidikan Al Quran (TPA) di sebuah mushala kecil di perumahan kami. Jadi kesimpulannya, saya puasa dan mengaji tetapi tidak shalat. Shalat hanya bulan Ramadhan karena buku evaluasi kuning itu. Hehehe. Saya sih senang-senang saja dimasukkan TPA, karena jadi memiliki kesempatan lain di luar sekolah untuk bertemu teman-teman.

Usia SD, logika dan nalar saya mulai berkembang. Saya sering bertanya pada diri sendiri mengapa papa dan mamak tidak pernah shalat, padahal mengaku Islam. Saya dan saudara pun tidak pernah dipaksa shalat, meski guru agama bilang kalau usia 7 tahun anak tidak mau shalat maka boleh dipukul. Tapi pertanyaan itu tidak pernah saya tanyakan langsung ke papa dan mamak. Saya takut dimarahi.

Hingga suatu hari saya melihat mamak memegang buku Iqra' milik saya yang sudah usang dan tak terpakai karena saya sudah mengaji Al Qur'an di TPA. Mamak mengaji a, ba, ta, tsa. Saya bertanya segera mengapa mamak melakukannya. Mamak bilang, "Mamak mau belajar baca huruf Arab. Mamak ga bisa. Dulu Mbah ga ngajarin." Ya, dulu Mbah Putri (dari pihak mamak) saya memang penganut kejawen sebelum almarhumah kembali pada Islam dan alhamdulillah sempat menunaikan haji. Mbah Kakung sendiri saya tidak tahu pasti apakah menjalankan agama Islam atau tidak. Saya hanya sempat mengenal beliau sebentar sebelum beliau berpulang.

Papa sendiri sebetulnya memiliki eksposur agama Islam yang lebih baik dibanding mamak. Tumbuh di keluarga bercorak NU dan sempat menjadi santri ketika beliau masih sekolah. Namun kesibukan kerja membuatnya sedikit demi sedikit meninggalkan shalat. Kecuali shalat jumat, tentu saja. Karenanya, papa juga tidak mengajari mama mengaji atau memaksa kami shalat.

Ternyata, Mamak bersama ibu-ibu satu komplek berinisiatif memanggil guru mengaji. Pak Munif, namanya. Belakangan, Pak Munif digantikan oleh guru perempuan bernama Bu Sri. Jadi ketika kami anak-anaknya pergi TPA di masjid pada sore hari, para ibu termasuk mamak juga belajar huruf hijaiyah. Saya masih ingat, mamak dengan perlahan menuliskan huruf-huruf yang ada di Iqra lusuh itu ke dalam buku tulis. Usia mamak mungkin saat itu 30-an. Belum cukup tua, memang. Tetapi mengingat mamak bukanlah orang dengan eksposur keislaman yang memadai tentu semangat itu mengagumkan. Beliau juga tidak malu meminta saya yang sudah lebih dulu bisa membaca Al Quran menjadi 'guru' nya di rumah. Sekedar mengulang bacaan supaya tidak lupa pada pengajian selanjutnya.

Ketika akhirnya saya harus pergi dari rumah karena kuliah S1 ke Yogyakarta (ini adalah kota yang membuat saya hijrah, saya ceritakan kapan-kapan), saya mendengar mamak mengaji Al Quran dengan indahnya di sela-sela mudik. Mamak juga sudah lama shalat lima waktu, juga melaksanakan amalan ibadah lainnya. Mamak mungkin lebih sering khatam daripada saya. Apalagi di bulan Ramadhan, semangatnya menjadi dua kali lipat. Saya bahagia, sekaligus malu. Hihihihi. Papa juga tidak mau kalah. Berangsur-angsur beliau kembali lagi shalat, termasuk mengerjakan shalat-shalat sunnah. Meski papa lebih jarang membaca Al Quran dibanding mamak. Saat ini Papa bahkan sudah shalat subuh di masjid secara rutin. Sebuah lompatan yang besar.

Satu keinginan mamak yang belum tercapai waktu itu. Pergi ke tanah suci. Entah untuk haji atau sekedar umrah bersama papa. Mamak mengatakan kepada saya pada sebuah momen mudik yang ke sekian, " Mamak sudah daftar haji sama papa, tapi masih lama berangkatnya. Mamak mau umrah dulu kali ya, takutnya ga ada umur sampe giliran haji dateng." Saya mengaminkan sungguh-sungguh doa mamak itu.


Alhamdulillah, Senin 23 Maret 2015 mamak dan papa berangkat umrah. Saya dan saudara-saudara sayangnya tidak ada yang bisa mengantar karena kami semua memang berada di kota yang berbeda dengan mamak dan papa. Untungnya suami saya berbaik hati ijin dari kantor untuk menemui keduanya di Bandara Soekarno Hatta, padahal saya tidak meminta. Mas Gery juga sempat mengatur sesi panggilan video via Google Hangouts agar saya bisa bicara dengan mereka sebelum berangkat. Cupcup wawaw buat Mas Gery. Hehehe.

Mamak dan Papa sebelum berangkat umrah :)
Mengingat mamak yang terbata-bata membaca a, ba, ta, tsa dari iqra yang lusuh pada malam itu, dan melihat mamak bisa mewujudkan mimpinya yang kesekian untuk melaksanakan umrah, sungguh membuat saya terharu. Good job, Mak. Semoga Allah senantiasa merahmati papa dan mamak, melancarkan ibadah umrahnya dan memberikan berkahNya juga keselamatan hingga nanti kembali ke Indonesia. Semoga Allah juga memberikan papa dan mamak kesempatan untuk melaksanakan haji nantinya.

Peristiwa Mamak (dan Papa) Pergi Umrah (yah sejenis Emak Naik Haji hehehe), ini membuat saya tersadar. Bahwa pernikahan yang berhasil bukanlah pernikahan yang diberikan banyak rezeki (duniawi) atau banyak anak. Tetapi pernikahan yang berhasil dan diberkahi oleh Allah adalah pernikahan yang menjadikan suami dan istri menjadi orang yang lebih berkualitas, terutama di hadapanNya. Semoga semangat untuk menjadi orang yang lebih baik ini bisa kami teladani. Aamiin.

Sunday, March 22, 2015

Makan Malam


Foto di atas adalah saya dan kawan-kawan di Blok D3 dan E3 Toad Hall, asrama tempat saya bernaung selama kuliah S2 di The Australian National University. Kami mengadakan makan malam bersama pada Sabtu, 21 Maret 2015 yang lalu. Ada kurang lebih 20 orang yang meninggali kamar-kamar di dua blok itu yang berasal dari kira-kira 12 negara.

Makan malam adalah saat dimana kami bisa bersosialisasi satu sama lain di tengah jadwal kuliah dan tugas yang menumpuk. Biasanya hidangan yang disediakan berbasis potluck dimana masing-masing dari kami bebas membawa makanan apapun untuk dimakan bersama. Atau bisa juga disediakan oleh manajemen Toad Hall. Soal makanan, saya cukup hati-hati karena sebagai Muslimah, ada beberapa makanan yang tidak boleh saya makan. Namun, mengingat saya minoritas, saya tidak serta merta merepotkan orang-orang dengan cerewet bilang bahwa saya tidak boleh makan ini dan itu. Saya biasanya membawa makanan sendiri yang bisa saya makan (tentu saja!) dan bisa dimakan yang lain juga. 

Meski saya minoritas, teman-teman di Toad Hall sangat pengertian. 

Tahun lalu, ketika ada acara makan malam potluck, teman-teman seblok dengan sengaja memisahkan vegetable roll yang mengandung babi (pork) dan yang tidak. Padahal saya tidak minta secara khusus. Saya juga sengaja tidak konfirmasi akan datang atau tidak, karena saya tidak ingin  mereka merasa kerepotan memasak makanan yang bisa saya makan, padahal mereka ingin makan pork. Ya, pork adalah hidangan yang hampir selalu ada karena (katanya) enak. Ketika saya datang, dengan ramahnya mereka memberitahu saya bahwa mereka telah memisahkan makanan yang mengandung pork dan yang tidak. Juga dengan proses pembuatannya. Padahal yang membuat itu adalah orang Vietnam dan Kamboja, yang jelas-jelas bukan beragama Islam. 

Tahun ini, hidangan makan malam disediakan oleh asrama. Senior Resident (semacam Pak RT di masing-masing blok) secara khusus mengatakan kepada saya di malam sebelum acara itu diadakan, "Dini, the menu tomorrow will be Turkish pide. It's halal, so don't worry." Duh, saya jadi terharu. Di acara itu mereka menyediakan sampanye dan anggur, tetapi tidak lupa juga menyediakan cola buat orang yang tidak minum alkohol seperti saya. 

Di tengah acara, ada seorang mahasiswa Cina yang bertanya, "Why do you always covering your head?" Saya berusaha menjelaskan sesederhana mungkin bahwa ini adalah nilai agama Islam yang saya pegang. Dia manggut-manggut. Entah mengerti atau tidak. Hehe. 

Di Indonesia, saya adalah mayoritas. Tetapi di sini, saya minoritas. Situasi seperti ini justru membuat saya belajar, nanti ketika kemabli ke Indonesia saya harus merangkul dan menghormati minoritas sebagaimana saya di sini dirangkul dan dihormati, bukan malah mengancam keberadaan mereka. 

Sunday, March 1, 2015

Lebih dari Setahun

Sudah lebih dari setahun, Mas. Di antara 365 hari-tanpamu bagiku dan tanpaku bagimu, adakah kita belajar sesuatu? Selain air mata yang mengalir deras dan sesak di dada akibat rindu.

Sudah lebih dari setahun, Mas. Di antara 365 hari itu, ada saja di antara kita yang merengek meminta bertemu. Terutama aku. Lalu kau dengan gengsi kelaki-lakianmu, menolak untuk menangis
hanya berkata, "Ya sudah, pulang saja. Tak usah lanjutkan pendidikanmu". Aku malah menangis lebih keras. Kau jahat, Mas. Tapi aku tahu, bukan itu sebenar maksudmu. 

Sudah lebih dari setahun, Mas. Kadang kita bertengkar, mungkin malah sering (ah sudahlah, pokoknya ada saja). Yang berbeda dari pasangan lain, meski tak bicara akibat bertengkar, semesta masih akan mempertemukan, dalam satu rumah, dalam satu kamar, dalam satu ranjang. 

Kita? Tak akan dipertemukan jika kita tak membuka layar. Meski sudah kangen tapi bila gengsi merajai, bisa dua hari tidak bertukar sapa. Bahaya? Tentu saja. Tapi di antara dua hari itu, ketahuilah, Mas, aku menangis terus-terusan, makan tak enak tidur tak nyenyak. Meski begitu, tetap saja aku menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dulu. Ah, mungkin ini masokis gaya baru. Haha. Kau, meski gengsi kelaki-lakianmu tetap tinggi, tidak pernah tahan untuk tidak bicara denganku. Lalu kau mengirim pesan singkat padaku, meminta sesi panggilan video sambil berkata, "Masih marah ya? Maafkan aku ya". Padahal jelas-jelas aku yang salah. Aku ini sungguh perempuan beruntung yang kurang ajar :p

Sudah lebih dari setahun, Mas. Perpisahan mengajarkan kita banyak hal. Mungkin terutama bagiku. Melalui perpisahan aku justru belajar bahwa kita benar-benar saling memiliki. Melalui rindu yang tumbuh, cemburu yang muncul atau marah tak jelas yang secara periodik mampir. Melalui perpisahan aku juga belajar bahwa meski kita saling memiliki, kita tidak boleh lupa bahwa kita adalah dua kepala yang berbeda, dengan keinginan yang berbeda. Bahwa berpasangan tidak selayaknya mematikan salah satu di antara kita dengan dalih "bersatu atas nama cinta". Cinta buat kita justru haruslah menghargai masing-masing dari kita, dengan seluruh perbedaan yang ada. Karena kita adalah dua orang yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. 

Sudah lebih dari setahun, Mas. Saat itu hampir tiba. Sabar ya. Sampai kita bertemu lagi :) 

Canberra, 1 Maret 2015


Wednesday, February 18, 2015

Zero

The moment when you and your partner are at zero point on the same time. Too weak to lift each other up. Even to weak to lift yourself up.

And distance makes it worse.


Wednesday, December 3, 2014

Happy

D : Why did you let me leave you, just after 29 days of our marriage, for study in Australia?
G : Because I know that pursuing higher education has become your dream for a long time.
      And seeing you happy makes me happy.
D : *berkaca-kaca*
      But isn't it hard to live separately like this?
G : The good thing is... we learn to be more patient persons :)

Recalling this conversation reminds me that I am here to chase my dream, to be happy, whatever the results are. Thank's heaps, you, for teaching me about being happy and giving me so much happiness.

I LOVE YOU, to the moon back and forth 999,999 million times.

Sunday, November 16, 2014

Sepi

Di dunia ini ada hal-hal yang tak bisa dikatakan. Tersangkut di kerongkongan. Berhenti di ujung lidah.

Penyebabnya bisa jadi banyak hal. Salah satunya karena kurang keberanian. Atau keinginan untuk tidak menyakiti. Padahal dengan tidak mengatakannya, justru melukai diri sendiri.

Ah.

Jika sudah begini, hambar adalah rasa yang ingin dikejar. Sehingga hal yang tak bisa dikatakan tidak lagi menjadi pikiran.

Atau tidur selama mungkin dan bermimpi mengatakan hal yang tidak bisa dikatakan dalam kenyataan. Bangun-bangun rasanya sudah lega, tak ada lagi beban.

Pengecut, bukan?

Aku kesepian.

Dan perkataan itu hanya tertulis di secarik kertas yang berakhir di kolong meja.

Lalu dunia entah mengapa terlihat lebih berwarna.

Sunday, October 19, 2014

inagurasi

dua puluh oktober dua ribu empat belas

ucapkan selamat datang pada siang-siang penuh kerja keras
sembari menyambut malam-malam dimana mata terpejam tapi otak terus diperas

jangan kira kami berdiam diri
jangan macam-macam, hanya itu pesan kami

janji segera diucapkan
amanat semoga ditunaikan

Canberra, 20 Oktober 2014

Wednesday, October 15, 2014

Lelah

Mungkin aku sedang lelah dengan tujuan-tujuan ambisius: "Pasangan yang bisa membawa kita lebih dekat padaNya", atau "Pasangan yang kita gandeng sampai surga".

Bukan berarti aku tidak ingin. 

Tapi aku butuh kau. Sekarang. Duduk di sebelahku, seraya berkata "Ini teh dengan sedikit gula." Lalu kau menatapku lamat-lamat. Sambil memegang tanganku kemudian kau bilang, "Semua baik-baik saja," dengan nirsuara.  

Dan dalam sepersekian detik, keabadian menghampiri. 



Canberra, 16 Oktober 2014

Saturday, August 2, 2014

Suatu hari di Bulan Agustus

Aku ingat ini hari pernikahanmu. Tapi aku sengaja tak menghubungimu, setelah semalam kau kuganggu dengan video Koka Kola itu. HAHAHA. Semoga semalam kamu tidak mimpi buruk :D 

Ketidakmampuanku hadir di hari bahagiamu, membuatku mengenang ratusan kilometer perjalanan kita. Dengan sepeda motor. Taksi. Kereta. Bajaj. Dan tentu saja metromini dan angkutan kota Jakarta yang kau hafal mati rutenya (oke aku berlebihan). Aku masih ingat perjalanan pertama kita berdua. Kalo tidak salah ke Pantai Depok, Yogyakarta, tempat kita tumbuh bersama. Mungkin itu pertama kalinya kita bicara panjang lebar tentang diri masing-masing. Setelah itu kita seperti berjanji, akan melakukan perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Benar saja. Takdir kehidupan membuat kita bertemu lagi di Jakarta. Di kota yang sama-sama kita maki. Sekaligus kita rindui. Tempat kita dewasa bersama. Aku masih ingat betul, malam-malam panjang diisi dengan curhat soal pekerjaan. Soal  kawan sejawat. Soal keluarga. Soal orang-orang yang datang lalu pergi sesuka hati mereka. Juga tentang orang-orang yang terus tinggal dalam hati kita.

Kita mungkin jarang bertemu. Tapi kita tahu, kita selalu ada untuk satu sama lain, dalam jeda waktu bertemu sepanjang apapun. Dalam kediaman selama apapun. Setelah hari ini, insha Allah, kita dipertemukan kembali dalam perjalanan-perjalanan lain. Mungkin juga dengan tambahan teman seperjalanan (if you know what I mean haha).


Pada suatu hari di bulan Agustus kau telah menggenapi setengah dien-mu. Beruntungnya ia yang berhasil menempatkanmu disampingnya. Semoga kalian terus bahagia!

Canberra, di tengah suhu 0celcius. 

Petualangan Dinci dan Wiwiw :D

Sunday, July 27, 2014

Alumnus Ramadhan

Malam 1 Syawal  1435 H.

Tahun ini tidak mudik seperti yang sudah-sudah. Saya memilih bertahan di Canberra karena sudah masuk minggu kuliah. Mungkin ini Idul Fitri paling sunyi yang pernah saya lewati. Entah di masa depan bagaimana. Jangan-jangan ini masih belum seberapa.

Di Australia tidak ada takbir keliling. Sahut-sahutan takbir dari masjid atau mushalla saja tidak ada. Jangankan takbiran, adzan pun tak pernah terdengar. Tapi saya tetap bersyukur, di acara buka puasa di rumah Mbak Fina dan Mas Ulil tadi, jamaah pria selepas maghrib mengumandangkan takbir selayaknya malam 1 Syawal meskipun sebentar. Takbiran yang singkat itu berhasil membuat saya terdiam. Dan sekarang saya menangis.

Saya memang pura-pura kuat.

Sejak kemarin saya menyebalkan. Cepat sekali emosi. Yang jadi korban adalah suami saya, orang yang paling sering saya ajak bicara. Tentang hal yang penting, dan terlebih tentang hal yang kurang penting. Dalam 3 hari, saya sudah 2 kali adu mulut dengannya. Akibat kekeraskepalaan saya. Akibat perilaku saya yang defensif. Akibat kesedihan yang gagal saya terjemahkan dengan baik.

Saya tahu ini “cuma” Idul Fitri. Saya jadi ingat bahwa Papa dan Mama sudah berkali-kali tidak pulang menemui orang tua mereka (ketika masih hidup) ketika Idul Fitri karena satu dan lain hal. Sekarang adalah giliran saya. Maka seharusnya saya tak perlu merasa sedih begitu rupa. Bukankah mengalami semua sendirian adalah salah satu inti merantau? Dan sebagai orang yang mengklaim dirinya perantau, tak seharusnya saya defensif yang akhirnya malah  terekspresi dalam sikap emosional tak tepat waktu dan tak tepat sasaran.

Jujur, selain kesedihan melewati Idul Fitri sendirian, ini juga merupakan saat terlemah saya.

Nilai semester lalu yang kurang memuaskan membuat saya gamang dalam melangkah, dan merasakan semua seperti dalam keadaan hampir koma. Setengah sadar. Kaki saya belum bisa berpijak di tanah dengan baik. Muncul pertanyaan-pertanyaan  dalam kepala. Apakah saya mampu? Dan lebih penting, apakah saya pantas?

Saya kembali ke Canberra dengan sebuah beban besar di pundak, bahwa saya harus bisa menyelesaikan studi dengan baik, sebagaimana rencana awal, 2 tahun dengan riset. Tapi semakin keras saya berpikir bagaimana caranya, semakin kencang satu jawaban bergema dalam kepala saya, “Lakukan yang terbaik yang kamu bisa!” Kalaupun saya tidak berhasil, ya sudahlah. Itu adalah proses yang harus saya terima.

Saya memang bukan ‘lulusan’ Ramadhan yang terbaik. Shalat tarawih tak lengkap. Tilawah kurang istiqomah. Tapi saat ini saya paham, bahwa Ramadhan yang terbaik adalah Ramadhan yang menghasilkan semangat untuk selalu berikhtiar memperbaiki diri di bulan-bulan setelahnya. Memperbaiki diri dalam ibadah, juga dalam studi.

Mungkin saya bukanlah “lulusan terbaik” Ramadhan. Tapi semoga saya bisa menjadi salah satu “alumnus yang baik” dari bulan Ramadhan.

Saya pamit dulu, mau menelepon suami untuk minta maaf :)

Semoga kita bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Taqaballahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1435 H.

Canberra, 27 Juli 2014


Thursday, June 26, 2014

Jarak 2

Ketika ia hadir begitu nyata, kau berusaha untuk membunuhnya.

Saat ini ia telah mati suri.
Tapi jangan lupa ada seorang anak haram dari ibu bernama 'jarak', yang kau panggil dia 'abai'.

Dan 'abai' telah berhasil merobek-robek jiwamu yang terlanjur senang atas kematian 'jarak'.
'Abai' bahkan lebih kejam dari 'jarak'. Kau dekat satu sama lain tapi tak saling acuh.

Di antara kepingan hancurnya jiwamu atas perbuatan 'abai', jangan kau lupa bahwa 'jarak' hanya mati suri.

Sebentar lagi ia akan bangkit kembali.

Saturday, May 31, 2014

Rindu di Tengah Hujan

 HUJAN DI BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan di bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon yang berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono, 1989

Canberra dibasahi hujan di akhir musim gugur © 2014 Dini Suryani

Mendung menggantung sejak pagi di langit Canberra. Tak kudengar suara hujan, tiba-tiba kulihat keluar jendela jalanan sudah basah. Mungkin langit Canberra tahu ini adalah saat yang tepat untuk merayakan kerinduan pada orang-orang terkasih yang sekarang tidak (atau belum) bisa ditemui.

Mungkin itu pula yang dirasakan hujan dalam Hujan di Bulan Juni milik Sapardi. Dia memilih untuk merahasiakan rasa rindu. Baginya mungkin sebaiknya rindu tidak ditampakkan, karena menampakkan rindu tak selalu menjadi sebaik-baiknya pilihan. Aku hanya bisa berharap semoga ia tetap tabah, seperti yang sudah-sudah.

***

Bagi perantau seperti aku, rindu layaknya oksigen yang dihirup paru-paru. Sebuah keharusan dan keniscayaan. Kurang rindu perantau lemah. Tak ada rindu perantau mati.

Meski sekarang hati perantau telah porak poranda disiksa rindu, namun rindu itu pula yang membuat perantau bertahan, menanti dengan tegar akan datangnya hari pertemuan.


Sayang, pekan depan aku pulang. 

Canberra, 1 Juni 2014

Saturday, May 24, 2014

The Story of "Little People" in Indonesian Elections

*Tulisan ini dimuat juga di website The Indonesianists pada tanggal 24 Mei 2014.

Legislative election has been recently completed. Political elites are now busily preparing themselves for the presidential election this July. While all eyes stick to the presidential election, this article is about to tell that democracy is not only belong to the elites, but also involved “little people” and one of the is Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) or voting organizer group. KPPS have crucial role to determine whether the election become a success.

KPPS could be seen as key actors in “street level” politics in Indonesian electoral system, besides large institutions such as Komisi Pemilihan Umum (KPU) and political parties at the higher level. Their presence is essential to determine the integrity of the election as whole, because votes in general election calculated from each Tempat Pemungutan Suara (TPS) or polling stations that run by KPPS.

Tracing back the history of election in Indonesia, we could learn that the use of ad-hoc groups for organizing elections at the lowest level had been the case since the first election in 1955. Herbert Feith (1999) notes that the 1955 election was organized at the grassroots by Panitia Penyelenggara Pemungutan Suara (PPPS) or the voting organizing committee, which consisted of 15 people for each Tempat Pemungutan Suara (TPS) or polling station. This committee consisted mainly ofvillage officials which were assisted by 3-5 persons known as Pembantu Keamanan Pemungutan Suara (PKPS) or voting security assistants. Interestingly, different from the current election, members of PPPS and PKPS could come from political parties. Although some PPPS and PKPS members were also members of political parties, they were able to demonstrate independent attitude, which resulted in the high degree of fairness and freedom of the 1955 election.

In the New Order, the organizing group for election at the lowest level also called KPPS since its first election in 1971, the same name as today. In carrying out elections, William Liddle (1992) mentioned that the New Order government manipulated all of the election institutions, including KPPS, to win Golkar. A study by Irwan and Adriana in 1995 found more than 82.5 per cent (510 of 618 cases) electoral fraud was committed by member of KPPS (Hidayat 2003). Instead of being resulted from KPPS’ own willingness to support Golkar, the fraud was allegedly caused by the threat of army soldiers who were assigned to monitor election at the village level. Members of KPPS in New Order could be interrogated by the army just because they were joking for not support Golkar.

Photo 1. President Suharto visited a TPS in Jakarta in 1971 Election (Source: Arsip Nasional RI)

What about KPPS since Reformasi era, specifically during the 2014 election? According to KPU Decree No 3/2013, the KPPS consists of seven persons from the community who manage elections in each TPS. KPPS members are assisted by two other people also from the community who serve as security officers in TPS. These people should be non-partisan. KPPS members derived from the names suggested by village officials. This membership mechanism is actually problematic because providing large authority to village officials in appointing KPPS members can provide some opportunity for nepotism. There were 545,803 TPS in the 2014 legislative election, which means that more than 3 million Indonesians were involved as KPPS in the election throughout the country. Their duties are among others, to execute voting and vote counting at polling stations, to secure the integrity of the ballot boxes after the vote count and after the ballot boxes sealed and to fill in recapitulation reports of vote counting results. These are not easy tasks and very time consuming.

Mardirahardjo (65), father of my colleague, Septi, is one of the members of KPPS in TPS 21 RW 17, Prawirodirjan, Gondomanan sub-district, Yogyakarta. He went home at 06.00 am on Thursday (10/4), after working since 7am the previous day. His TPS is a big one (433 voters, where there is a cap on 500 per TPS) Moreover, because of the open list system, the task of counting votes has become more arduous as members have to count the votes for political party as well as votes for candidates from each party. Since the day of election, Mardirahardjo suffered from a respiratory problem due to fatigue. In West Sumatera, Lampung and Bengkulu some KPPS members died allegedly due to the exhaustion of vote counting (Antaranews.com 10/4).

KPPS members get paid for their service, but it is only around Rp 300,000- Rp 450,000 for work that requires weeks of commitment. In Nunukan of North Kalimantan, KPPS members withdrew from their duties in protest at the small wage they received. In Ende of East Nusa Tenggara province, KPPS members held the ballot boxes hostage as they waited for the payment of their honorariums from the KPU (Tribunnews.com 30/3). Despite those incicents, most KPPS members are not concerned about this small fee and seeing it as a form of service to the country.

With that low honorarium, many committees have taken on the initiative to encourage citizens to vote. In Bandung and other places, KPPS members dressed up and built unique structures of the TPS to attract people to exercise their voting rights. Most of these KPPS raised the funds from the community themselves as the KPU only provided Rp 750,000 (around US $ 75) per TPS.
Photo 2. Chinese-costumed KPPS members in one of TPS in Bandung (Source: detik.com)
Unfortunately, some members of KPPS were committed election fraud . Since KPPS members had direct access to ballots and votes recapitulation report, KPPS membership is prone to misuse. In Maluku and South Sumatra Provinces, the Election Monitoring Agency (Bawaslu) uncovered fraud and recommended a re-vote. The fraud usually related to the manipulation of voting resuts to one party or legislative candidate in a TPS. In a polling station in Boyolali of Central Java Provice for instance, 70 per cent of the ballots was allegedly manipulated by the KPPS members. In addition, the villagers were also intimidated by village officials and one member of KPPS to give their votes to a candidate from Partai Demokrat (Solopos.com 17/4). As retaliation, KPPS members who were “helpful” to manipulate the votes, got some money from the party or candidate.

Regardless of the frauds committed by some KPPS members, the active involvement of citizens in the election portrayed a clear picture that the Indonesian democracy is not only run by the political elites. KPPS, which is the lowest level of election apparatus, have played important role in determining the quality of election. They carried out difficult and complex election procedures, with huge risk and small compensation. In future, there should be more appreciation to these “little people”, who are undoubtedly significant democratic players. Honorarium reward to them must be adjusted in order to “professionalize” KPPS. More broadly, the high quality of election requires more modern and mature procedure. Without significant revitalization of election system and procedure, we cannot hope for more clean, free and fair election.

Dini Suryani
A Master of Asia-Pacific Studies student at the Australian National University

Saturday, May 17, 2014

Thursday, May 8, 2014

Rumah

Berapa gelintir dari manusia di muka bumi ini menghabiskan waktu berkeliling dunia hanya untuk mencari ‘rumah’?
Mungkin sepuluh. Seratus. Satu juta. Sepuluh juta.
Mungkin salah satu di antaranya adalah kamu?
Rumah macam apa sesungguhnya yang kamu cari itu, yang membuatmu menghabiskan hampir seperempat usia hidup?
Bisa jadi rumah megah. Bisa pula hanya sebuah pondok sederhana.
Bisa pula hanya beralaskan rumput, beratapkan langit.

Dunia ini telah menuntut banyak hal dari dirimu. Mengharuskanmu menjadi ini dan itu. Kau turuti susah payah. Kadang sekedar berpeluh, sesekali penuh darah.
Rumah selalu berhasil membuatmu menanggalkan sejenak ke(pura-pura)perkasaan yang sudah sekian lama kau taruh di pundak. Merenggangkan otot-otot ego. Melepaskan hati yang sedari tadi gulana.
Di rumah, kau kembali menjadi dirimu. Tidak ingin menjadi ini dan itu. Hanya menjadi dirimu. Menikmati waktu yang semakin pendek.  Dan menikmati butiran air mata yang tak pernah kau jatuhkan di dunia luar sana.
Maka wajar bagi sepuluh, seratus, satu juta, sepuluh juta manusia bertekad menemukan rumahnya masing-masing. 
My home is you (Source: watcha-ahc.tumblr.com)

Dan dengan gembira aku umumkan, aku sudah menemukan rumah itu. Rumah yang selalu bisa aku pulangi tanpa merasa bosan melihat airmataku, dan tanpa mengkritisi kelemahanku. Rumah yang selalu kurindukan untuk kupulangi, karena ia telah menerima apa adanya diriku, sebelum aku menerima apa adanya diriku sendiri.

Bagi sepuluh, seratus, satu juta, sepuluh juta yang belum, teruslah mencari. Kau pasti menemukannya.  



Friday, May 2, 2014

Melupakan untuk Mengingat

Kau selalu merasa bahwa mudah lupa adalah sebuah kelebihan. Secara tidak sengaja kau lupa pada hal-hal yang memang sudah semestinya tak perlu kau ingat. Lalu menjadikan hal itu tak berkesan di matamu. Tak ada artinya di hatimu.

Tapi di tengah kemudahan lupa, kau harus tetap ingat, bahwa ingatan memiliki aturannya sendiri. Dengan egoisnya dia bisa juga memilih kenangan dan peristiwa masa lalu untuk diingat dengan intepretasinya sendiri, tanpa mau berkompromi denganmu. Ia melupakan hal yang ingin kau ingat, dan mengingat hal yang ingin kau lupakan.

Dan meskipun kau betul-betul mudah lupa, kau sering lengah. Bahwa melupakan bukan berarti hilang ingatan. Selalu saja ada serpihan kenangan tinggal di sudut-sudut kepala. Selalu saja ada potongan masa lalu yang menolak beranjak dari lapis terdalam perasaan. Di sela-sela perjalananmu, serpihan kenangan dan potongan masa lalu seringkali mampir tanpa mempertimbangkan situasi hati.


Dalam persinggahan kenangan dan masa lalu itu, terkadang kau tak merasa apa-apa. Tapi tak jarang serpihan dan potongan itu memaksamu berhenti berjalan, entah lama, entah sebentar. Membuatmu berpikir keras, haruskah kau terus berjalan ke depan, atau berbalik arah dan mengambil satu persatu serpihan juga kenangan yang sebetulnya kau ingin kubur dalam-dalam. Mengambilnya untuk membuangnya ke tempat yang seharusnya. Atau bisa juga mengambilnya untuk kembali menyimpannya.

Kau merasa kenangan dan masa lalu itu terus menyakitimu. Mengobrak-abrik hatimu. Menggarami lukamu yang menganga. Lalu kau memutuskan untuk menyerah. Kau memasrahkan semuanya pada ingatanmu yang egois itu.

Di tengah-tengah kepasrahanmu, perlahan kau menyadari, bahwa kenangan dan masa lalu itu bagian dari dirimu. Merekalah yang mengukir jiwamu. Menempa hatimu. Mengokohkan perasaanmu. Membentuk dirimu.

Kemudian kau memutuskan untuk berjalan ke depan. Tetapi dengan menggenggam kenangan di tangan kiri dan mendekap masa lalu di tangan kanan. Airmata yang sejak tadi kau kendalikan, kali ini tidak bisa menahan dirinya untuk merayakan kepasrahan ini bersamamu.

Tapi kau yakin itu bukanlah kesedihan. Itu adalah keberanian.

Forget to Remember (Source: sportsgeezer.com)

Sunday, April 27, 2014

Maaf dan Terima Kasih

"Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang tak terhingga kepada yang dia yang telah menggenggam tangan ayah saya untuk menikahi saya dan menandatangani perjanjian Sighat Taklik yang ada nama saya di dalamnya.

Maaf jika saya telah banyak berbuat salah. Semoga Allah tidak henti memberikan rahmatNya kepada saya untuk menjadi manusia yang terus memperbaiki diri.

Juga, terima kasih telah memilih saya dan berbuat baik pada saya. Terima kasih pula telah mempercayai saya dengan sebaik-baiknya percaya.

Dini-Gery's Engagement Ceremony in Jakarta, 5 January 2013.
© 2013 Fatmawati Mulyadi