Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Tuesday, March 24, 2015

Iqra Mamak

Bingung ya kenapa saya nulis blog terus? Sama saya juga bingung. Hahaha. Padahal saya harus menyelesaikan proposal tesis sesegera mungkin. Tapi tidak apa-apalah. Saya sudah menisbatkan menulis blog sebagai bentuk pelarian. Escape strategy, istilah kerennya. Meski saya tidak pernah benar-benar bisa lari dari kewajiban tesis (ya iyalah!). 

Kali ini saya ingin bercerita soal ibu saya yang saya panggil mamak. Ya, Mamak dengan 'k' karena kami terpengaruh oleh dialek Kalimantan meski kami secara etnisitas masuk ke dalam kelompok suku Jawa.

Mamak ini orang yang sangat kuat menurut saya. Pendiriannya teguh, meski beliau tidak berpendidikan tinggi. Padahal saya juga tidak yakin apakah benar-benar ada korelasi antara tingkat pendidikan dan teguhnya pendirian. Hehehe. Beliau hanya lulus SMP. Memang mamak sempat duduk di bangku SMA, tetapi di usia 18, ketika kelas 3, beliau dinikahi oleh ayah yang kami panggil Papa. Lalu punya anak kami bertiga.

Mamak tidak bekerja. Sejak ia menikah, papa memintanya berhenti dan menjadi ibu rumah tangga. Tidak ada yang aneh di keluarga kami waktu itu. Kami cuma warga biasa yang beragama Islam KTP sebagaimana kebanyakan penduduk di Indonesia. Ya, kedua orang tua saya (waktu itu) tidak menjalankan sholat lima waktu dan tidak ada paksaan bagi kami anak-anaknya untuk melakukannya. Hanya saja, jika Ramadhan tiba, kami diwajibkan berpuasa, meski tidak diikuti dengan diwajibkan shalat termasuk shalat tarawih. Jika tidak berpuasa, papa akan memarahi kami.

Saya sendiri berpuasa dan shalat lima waktu juga shalat tarawih di bulan Ramadhan-selain takut sama Papa- juga karena sekolah memberikan saya dan murid lainnya Buku Evaluasi Ramadhan (iya betul, yang kuning itu) untuk diisi. Maka saya akan mengisi buku evaluasi itu sesuai dengan amalan ibadah saya. Saya cukup berprestasi secara akademik di sekolah. Tentu saya tidak menginginkan nilai saya jatuh hanya gegara buku evaluasi ramadhan yang bolong-bolong. Saya terlalu pengecut untuk berbohong, karena sejak kecil mamak sudah mengajari saya bahwa berbohong (meskipun itu white lies) tidak baik.

Selain tidak boleh berbohong, mamak juga memasukkan saya ke sekolah Taman Pendidikan Al Quran (TPA) di sebuah mushala kecil di perumahan kami. Jadi kesimpulannya, saya puasa dan mengaji tetapi tidak shalat. Shalat hanya bulan Ramadhan karena buku evaluasi kuning itu. Hehehe. Saya sih senang-senang saja dimasukkan TPA, karena jadi memiliki kesempatan lain di luar sekolah untuk bertemu teman-teman.

Usia SD, logika dan nalar saya mulai berkembang. Saya sering bertanya pada diri sendiri mengapa papa dan mamak tidak pernah shalat, padahal mengaku Islam. Saya dan saudara pun tidak pernah dipaksa shalat, meski guru agama bilang kalau usia 7 tahun anak tidak mau shalat maka boleh dipukul. Tapi pertanyaan itu tidak pernah saya tanyakan langsung ke papa dan mamak. Saya takut dimarahi.

Hingga suatu hari saya melihat mamak memegang buku Iqra' milik saya yang sudah usang dan tak terpakai karena saya sudah mengaji Al Qur'an di TPA. Mamak mengaji a, ba, ta, tsa. Saya bertanya segera mengapa mamak melakukannya. Mamak bilang, "Mamak mau belajar baca huruf Arab. Mamak ga bisa. Dulu Mbah ga ngajarin." Ya, dulu Mbah Putri (dari pihak mamak) saya memang penganut kejawen sebelum almarhumah kembali pada Islam dan alhamdulillah sempat menunaikan haji. Mbah Kakung sendiri saya tidak tahu pasti apakah menjalankan agama Islam atau tidak. Saya hanya sempat mengenal beliau sebentar sebelum beliau berpulang.

Papa sendiri sebetulnya memiliki eksposur agama Islam yang lebih baik dibanding mamak. Tumbuh di keluarga bercorak NU dan sempat menjadi santri ketika beliau masih sekolah. Namun kesibukan kerja membuatnya sedikit demi sedikit meninggalkan shalat. Kecuali shalat jumat, tentu saja. Karenanya, papa juga tidak mengajari mama mengaji atau memaksa kami shalat.

Ternyata, Mamak bersama ibu-ibu satu komplek berinisiatif memanggil guru mengaji. Pak Munif, namanya. Belakangan, Pak Munif digantikan oleh guru perempuan bernama Bu Sri. Jadi ketika kami anak-anaknya pergi TPA di masjid pada sore hari, para ibu termasuk mamak juga belajar huruf hijaiyah. Saya masih ingat, mamak dengan perlahan menuliskan huruf-huruf yang ada di Iqra lusuh itu ke dalam buku tulis. Usia mamak mungkin saat itu 30-an. Belum cukup tua, memang. Tetapi mengingat mamak bukanlah orang dengan eksposur keislaman yang memadai tentu semangat itu mengagumkan. Beliau juga tidak malu meminta saya yang sudah lebih dulu bisa membaca Al Quran menjadi 'guru' nya di rumah. Sekedar mengulang bacaan supaya tidak lupa pada pengajian selanjutnya.

Ketika akhirnya saya harus pergi dari rumah karena kuliah S1 ke Yogyakarta (ini adalah kota yang membuat saya hijrah, saya ceritakan kapan-kapan), saya mendengar mamak mengaji Al Quran dengan indahnya di sela-sela mudik. Mamak juga sudah lama shalat lima waktu, juga melaksanakan amalan ibadah lainnya. Mamak mungkin lebih sering khatam daripada saya. Apalagi di bulan Ramadhan, semangatnya menjadi dua kali lipat. Saya bahagia, sekaligus malu. Hihihihi. Papa juga tidak mau kalah. Berangsur-angsur beliau kembali lagi shalat, termasuk mengerjakan shalat-shalat sunnah. Meski papa lebih jarang membaca Al Quran dibanding mamak. Saat ini Papa bahkan sudah shalat subuh di masjid secara rutin. Sebuah lompatan yang besar.

Satu keinginan mamak yang belum tercapai waktu itu. Pergi ke tanah suci. Entah untuk haji atau sekedar umrah bersama papa. Mamak mengatakan kepada saya pada sebuah momen mudik yang ke sekian, " Mamak sudah daftar haji sama papa, tapi masih lama berangkatnya. Mamak mau umrah dulu kali ya, takutnya ga ada umur sampe giliran haji dateng." Saya mengaminkan sungguh-sungguh doa mamak itu.


Alhamdulillah, Senin 23 Maret 2015 mamak dan papa berangkat umrah. Saya dan saudara-saudara sayangnya tidak ada yang bisa mengantar karena kami semua memang berada di kota yang berbeda dengan mamak dan papa. Untungnya suami saya berbaik hati ijin dari kantor untuk menemui keduanya di Bandara Soekarno Hatta, padahal saya tidak meminta. Mas Gery juga sempat mengatur sesi panggilan video via Google Hangouts agar saya bisa bicara dengan mereka sebelum berangkat. Cupcup wawaw buat Mas Gery. Hehehe.

Mamak dan Papa sebelum berangkat umrah :)
Mengingat mamak yang terbata-bata membaca a, ba, ta, tsa dari iqra yang lusuh pada malam itu, dan melihat mamak bisa mewujudkan mimpinya yang kesekian untuk melaksanakan umrah, sungguh membuat saya terharu. Good job, Mak. Semoga Allah senantiasa merahmati papa dan mamak, melancarkan ibadah umrahnya dan memberikan berkahNya juga keselamatan hingga nanti kembali ke Indonesia. Semoga Allah juga memberikan papa dan mamak kesempatan untuk melaksanakan haji nantinya.

Peristiwa Mamak (dan Papa) Pergi Umrah (yah sejenis Emak Naik Haji hehehe), ini membuat saya tersadar. Bahwa pernikahan yang berhasil bukanlah pernikahan yang diberikan banyak rezeki (duniawi) atau banyak anak. Tetapi pernikahan yang berhasil dan diberkahi oleh Allah adalah pernikahan yang menjadikan suami dan istri menjadi orang yang lebih berkualitas, terutama di hadapanNya. Semoga semangat untuk menjadi orang yang lebih baik ini bisa kami teladani. Aamiin.

Sunday, March 1, 2015

Lebih dari Setahun

Sudah lebih dari setahun, Mas. Di antara 365 hari-tanpamu bagiku dan tanpaku bagimu, adakah kita belajar sesuatu? Selain air mata yang mengalir deras dan sesak di dada akibat rindu.

Sudah lebih dari setahun, Mas. Di antara 365 hari itu, ada saja di antara kita yang merengek meminta bertemu. Terutama aku. Lalu kau dengan gengsi kelaki-lakianmu, menolak untuk menangis
hanya berkata, "Ya sudah, pulang saja. Tak usah lanjutkan pendidikanmu". Aku malah menangis lebih keras. Kau jahat, Mas. Tapi aku tahu, bukan itu sebenar maksudmu. 

Sudah lebih dari setahun, Mas. Kadang kita bertengkar, mungkin malah sering (ah sudahlah, pokoknya ada saja). Yang berbeda dari pasangan lain, meski tak bicara akibat bertengkar, semesta masih akan mempertemukan, dalam satu rumah, dalam satu kamar, dalam satu ranjang. 

Kita? Tak akan dipertemukan jika kita tak membuka layar. Meski sudah kangen tapi bila gengsi merajai, bisa dua hari tidak bertukar sapa. Bahaya? Tentu saja. Tapi di antara dua hari itu, ketahuilah, Mas, aku menangis terus-terusan, makan tak enak tidur tak nyenyak. Meski begitu, tetap saja aku menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dulu. Ah, mungkin ini masokis gaya baru. Haha. Kau, meski gengsi kelaki-lakianmu tetap tinggi, tidak pernah tahan untuk tidak bicara denganku. Lalu kau mengirim pesan singkat padaku, meminta sesi panggilan video sambil berkata, "Masih marah ya? Maafkan aku ya". Padahal jelas-jelas aku yang salah. Aku ini sungguh perempuan beruntung yang kurang ajar :p

Sudah lebih dari setahun, Mas. Perpisahan mengajarkan kita banyak hal. Mungkin terutama bagiku. Melalui perpisahan aku justru belajar bahwa kita benar-benar saling memiliki. Melalui rindu yang tumbuh, cemburu yang muncul atau marah tak jelas yang secara periodik mampir. Melalui perpisahan aku juga belajar bahwa meski kita saling memiliki, kita tidak boleh lupa bahwa kita adalah dua kepala yang berbeda, dengan keinginan yang berbeda. Bahwa berpasangan tidak selayaknya mematikan salah satu di antara kita dengan dalih "bersatu atas nama cinta". Cinta buat kita justru haruslah menghargai masing-masing dari kita, dengan seluruh perbedaan yang ada. Karena kita adalah dua orang yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. 

Sudah lebih dari setahun, Mas. Saat itu hampir tiba. Sabar ya. Sampai kita bertemu lagi :) 

Canberra, 1 Maret 2015


Wednesday, December 3, 2014

Happy

D : Why did you let me leave you, just after 29 days of our marriage, for study in Australia?
G : Because I know that pursuing higher education has become your dream for a long time.
      And seeing you happy makes me happy.
D : *berkaca-kaca*
      But isn't it hard to live separately like this?
G : The good thing is... we learn to be more patient persons :)

Recalling this conversation reminds me that I am here to chase my dream, to be happy, whatever the results are. Thank's heaps, you, for teaching me about being happy and giving me so much happiness.

I LOVE YOU, to the moon back and forth 999,999 million times.

Saturday, August 2, 2014

Suatu hari di Bulan Agustus

Aku ingat ini hari pernikahanmu. Tapi aku sengaja tak menghubungimu, setelah semalam kau kuganggu dengan video Koka Kola itu. HAHAHA. Semoga semalam kamu tidak mimpi buruk :D 

Ketidakmampuanku hadir di hari bahagiamu, membuatku mengenang ratusan kilometer perjalanan kita. Dengan sepeda motor. Taksi. Kereta. Bajaj. Dan tentu saja metromini dan angkutan kota Jakarta yang kau hafal mati rutenya (oke aku berlebihan). Aku masih ingat perjalanan pertama kita berdua. Kalo tidak salah ke Pantai Depok, Yogyakarta, tempat kita tumbuh bersama. Mungkin itu pertama kalinya kita bicara panjang lebar tentang diri masing-masing. Setelah itu kita seperti berjanji, akan melakukan perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Benar saja. Takdir kehidupan membuat kita bertemu lagi di Jakarta. Di kota yang sama-sama kita maki. Sekaligus kita rindui. Tempat kita dewasa bersama. Aku masih ingat betul, malam-malam panjang diisi dengan curhat soal pekerjaan. Soal  kawan sejawat. Soal keluarga. Soal orang-orang yang datang lalu pergi sesuka hati mereka. Juga tentang orang-orang yang terus tinggal dalam hati kita.

Kita mungkin jarang bertemu. Tapi kita tahu, kita selalu ada untuk satu sama lain, dalam jeda waktu bertemu sepanjang apapun. Dalam kediaman selama apapun. Setelah hari ini, insha Allah, kita dipertemukan kembali dalam perjalanan-perjalanan lain. Mungkin juga dengan tambahan teman seperjalanan (if you know what I mean haha).


Pada suatu hari di bulan Agustus kau telah menggenapi setengah dien-mu. Beruntungnya ia yang berhasil menempatkanmu disampingnya. Semoga kalian terus bahagia!

Canberra, di tengah suhu 0celcius. 

Petualangan Dinci dan Wiwiw :D

Sunday, July 27, 2014

Alumnus Ramadhan

Malam 1 Syawal  1435 H.

Tahun ini tidak mudik seperti yang sudah-sudah. Saya memilih bertahan di Canberra karena sudah masuk minggu kuliah. Mungkin ini Idul Fitri paling sunyi yang pernah saya lewati. Entah di masa depan bagaimana. Jangan-jangan ini masih belum seberapa.

Di Australia tidak ada takbir keliling. Sahut-sahutan takbir dari masjid atau mushalla saja tidak ada. Jangankan takbiran, adzan pun tak pernah terdengar. Tapi saya tetap bersyukur, di acara buka puasa di rumah Mbak Fina dan Mas Ulil tadi, jamaah pria selepas maghrib mengumandangkan takbir selayaknya malam 1 Syawal meskipun sebentar. Takbiran yang singkat itu berhasil membuat saya terdiam. Dan sekarang saya menangis.

Saya memang pura-pura kuat.

Sejak kemarin saya menyebalkan. Cepat sekali emosi. Yang jadi korban adalah suami saya, orang yang paling sering saya ajak bicara. Tentang hal yang penting, dan terlebih tentang hal yang kurang penting. Dalam 3 hari, saya sudah 2 kali adu mulut dengannya. Akibat kekeraskepalaan saya. Akibat perilaku saya yang defensif. Akibat kesedihan yang gagal saya terjemahkan dengan baik.

Saya tahu ini “cuma” Idul Fitri. Saya jadi ingat bahwa Papa dan Mama sudah berkali-kali tidak pulang menemui orang tua mereka (ketika masih hidup) ketika Idul Fitri karena satu dan lain hal. Sekarang adalah giliran saya. Maka seharusnya saya tak perlu merasa sedih begitu rupa. Bukankah mengalami semua sendirian adalah salah satu inti merantau? Dan sebagai orang yang mengklaim dirinya perantau, tak seharusnya saya defensif yang akhirnya malah  terekspresi dalam sikap emosional tak tepat waktu dan tak tepat sasaran.

Jujur, selain kesedihan melewati Idul Fitri sendirian, ini juga merupakan saat terlemah saya.

Nilai semester lalu yang kurang memuaskan membuat saya gamang dalam melangkah, dan merasakan semua seperti dalam keadaan hampir koma. Setengah sadar. Kaki saya belum bisa berpijak di tanah dengan baik. Muncul pertanyaan-pertanyaan  dalam kepala. Apakah saya mampu? Dan lebih penting, apakah saya pantas?

Saya kembali ke Canberra dengan sebuah beban besar di pundak, bahwa saya harus bisa menyelesaikan studi dengan baik, sebagaimana rencana awal, 2 tahun dengan riset. Tapi semakin keras saya berpikir bagaimana caranya, semakin kencang satu jawaban bergema dalam kepala saya, “Lakukan yang terbaik yang kamu bisa!” Kalaupun saya tidak berhasil, ya sudahlah. Itu adalah proses yang harus saya terima.

Saya memang bukan ‘lulusan’ Ramadhan yang terbaik. Shalat tarawih tak lengkap. Tilawah kurang istiqomah. Tapi saat ini saya paham, bahwa Ramadhan yang terbaik adalah Ramadhan yang menghasilkan semangat untuk selalu berikhtiar memperbaiki diri di bulan-bulan setelahnya. Memperbaiki diri dalam ibadah, juga dalam studi.

Mungkin saya bukanlah “lulusan terbaik” Ramadhan. Tapi semoga saya bisa menjadi salah satu “alumnus yang baik” dari bulan Ramadhan.

Saya pamit dulu, mau menelepon suami untuk minta maaf :)

Semoga kita bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Taqaballahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1435 H.

Canberra, 27 Juli 2014


Sunday, April 27, 2014

Maaf dan Terima Kasih

"Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang tak terhingga kepada yang dia yang telah menggenggam tangan ayah saya untuk menikahi saya dan menandatangani perjanjian Sighat Taklik yang ada nama saya di dalamnya.

Maaf jika saya telah banyak berbuat salah. Semoga Allah tidak henti memberikan rahmatNya kepada saya untuk menjadi manusia yang terus memperbaiki diri.

Juga, terima kasih telah memilih saya dan berbuat baik pada saya. Terima kasih pula telah mempercayai saya dengan sebaik-baiknya percaya.

Dini-Gery's Engagement Ceremony in Jakarta, 5 January 2013.
© 2013 Fatmawati Mulyadi 

Monday, April 21, 2014

Kebaya di Hari Kartini

April 1992-1998

Apa yang paling identik dengan 21 April? Hari Kartini tentu saja. Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, beberapa sekolah menyunnahkan (bukan mewajibkan hihi) kami murid-murid perempuan memakai baju daerah. Apapun itu. Bisa kebaya, baju bodo, baju kurung. Terserah, yang penting baju daerah. Saya? Seingat saya, tidak setiap tahun saya memakainya. Bukan karena apa-apa, tetapi mama saya tidak akan mau repot-repot menyewakan saya dan kakak baju daerah dari salon karena harganya mahal.

Saya bingung waktu itu. Mengapa mama begitu ‘pelit’. Kami bukan dari keluarga yang kurang mampu. Alhamdulillah semua berkecukupan. Tapi mama begitu ketat dalam memilih dan memilah, kebutuhan mana yang prioritas dan bukan prioritas. Tentu menyewa baju kebaya setiap Hari Kartini bukan termasuk kebutuhan yang prioritas. Ada rasa iri saya pada teman-teman yang orang tuanya niat mendandani anaknya dengan kebaya dan baju daerah warna-warni lengkap dengan sanggul dan sepatu hak tingginya. 

Saya ingat betul, ketika kalender di ruang makan yang semula adalah kalender 1997 diganti menjadi 1998 karena pergantian tahun, saya jadi sulit tidur. Setiap hari saya melihat kalender itu. Bukan melihat tanggal atau bulannya, tetapi melihat gambar model yang menghiasi di setiap halamannya. Gambar model wanita cantik dengan baju daerah dari 12 daerah di seluruh Indonesia. Saya paling tertarik dengan halaman bulan Januari, karena Diah Permatasari (iya Diah yang jadi Si Manis Jembatan Ancol :D) memakai baju adat Aceh.  Alasan saya sederhana saja, baju adat Aceh yang saya lihat waktu itu memakai celana panjang, berbeda dengan baju adat lain yang harus memakai rok sempit-sempit. Pasti susah jalannya, pikir saya waktu itu.

Hari berganti, bulan terlewati. Sudah bulan April, tak ada tanda Mama akan menyewakan baju daerah padahal sebentar lagi Hari Kartini. Saya tidak berani bertanya, karena sudah menduga bahwa jawabannya pasti tidak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tapi saya tidak pernah bosan melihat baju adat Aceh di bulan Januari, dan membayangkan apabila saya bisa memakainya di Hari Kartini di sekolah. Membayangkannya saja waktu itu seingat saya, saya cukup merasa bahagia. Sederhana sekali ya? :D

Maret- April 2005.

Akhir kelas 3 SMA. Bulan depan Hari Kartini, tapi saya sudah tak bernafsu lagi soal kebaya-kebaya seperti waktu jaman SD dulu, meski tetap ada keinginan memakai kebaya yang "niat". Saya lebih fokus ke ujian akhir. Nilai tryout yang kurang begitu memuaskan membuat saya tak lagi pusing soal kebaya di Hari Kartini. Hingga wali kelas menunjuk saya menjadi wakil kelas untuk ikut lomba pidato tentang perempuan di Hari Kartini. Saya tak bisa menolak, dan yang menjengkelkan (atau menyenangkan) peserta lomba pidato diwajibkan memakai baju daerah lengkap. Sepanjang pulang ke rumah saya sibuk berpikir, apa yang harus saya katakan pada Mama mengenai ini? Masih sebulan lagi, sih.

Sampai di rumah, Mama menceritakan rencana keluarga untuk belanja di Samarinda. Kota kecil Sangatta memang kurang pas buat belanja-belanja. Selain harganya mahal, juga tak banyak pilihan. Keluarga kami memang biasanya setiap bulan ke Samarinda untuk membeli kebutuhan sekunder (seperti perabot rumah tangga dan printilan lainnya). Sesampai di  Matahari Dept. Store Samarinda, saya melihat deretan kebaya encim yang simple tetapi manis. Saya beranikan diri bertanya pada Mama, apakah ada kesempatan saya bisa memilikinya, sambil menceritakan soal lomba itu. Tak lupa saya sisipkan kalimat "pembujuk", kalo tidak dibelikan ya tidak apa, nanti bisa pinjam saja baju kebaya milik teman. Mama diam, tapi beliau mulai memilih-milih baju kebaya di deretan itu (saya menjerit dalam hati, yesss!) Terpilihlah sehelai kebaya encim berwarna putih untuk di bawa ke kasir. Tak disangka, Mama juga berencana membawa saya berpagi-pagi ke salon, supaya saya didandani dan dipasangi sanggul. Padahal saya tak memintanya. Saya lebih sibuk mempersiapkan naskah pidato saya soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa banyak perempuan di Indonesia.

Hari H lomba pidato, saya berdiri depan tim juri, mengemukakan pidato saya soal KDRT pada perempuan di Indonesia. Saya sibuk casciscus soal statistik kekerasan, dan menganalisa apa sebabnya. Tuntutan sosial bahwa perempuan harus cepat menikah adalah yang paling saya ingat (maklum udah tua, ga inget semua hihihi). Akhirnya perempuan cenderung terburu-buru, tanpa tahu mengapa ia menikah dan apa sebetulnya yang ingin didapat dari pernikahan itu. Aturan hukum pun tak banyak yang paham. Sehingga ketika terjadi kekerasan, maka dianggap sebagai sebuah kewajaran. Kewajaran bahwa sudah sepatutnya suami “mendidik” istri, dengan cara apapun, termasuk dikerasi baik secara fisik maupun verbal.

Saya terlena dalam pidato. Setelah pidato selesai terjadi diskusi yang seru dengan tim juri (jadi ini bukan cuma lomba pidato searah gitu, tim juri bisa bertanya lebih lanjut atau sekedar konfirmasi pada peserta mengenai topik yang diangkat). Saya lupa dengan Diah Permatasari si pemakai baju Aceh. Saya lupa dengan kebaya. Yang saya ingat, mimpi saya akan kebaya, sudah tergantikan oleh keinginan: ketika saya akan menikah, saya harus selesai memahami aturan hukum yang terkait dengan pernikahan seperti UU No. 1/ 1974 tentang pernikahan dan UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 

Alhamdulillah, keinginan itu tercapai, sehingga saya menikah tidak dengan kepala "kosong". Insya Allah saya memahami hak - kewajiban istri dan suami. Juga apa dan bagaimana sebetulnya yang disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga menurut UU itu. Didampingi dengan bacaan saya yang sedikit soal rumah tangga dalam Islam sejak kuliah, insya Allah saya siap menapaki jenjang pernikahan. 

21 April 2014

Di Canberra tak ada perayaan Hari Kartini. Tapi cerita soal kebaya di Hari Kartini selalu saya panggil kembali dalam ingatan setiap hari ini. Melalui rentetan kejadian soal kebaya dan Hari Kartini itu, Mama secara tidak langsung telah memberi saya pelajaran, bahwa isi harus sama baiknya dengan bungkus. Dandanan cantik kebaya harus disertai dengan pemahaman apa yang seharusnya perempuan pahami mengenai dirinya. Tidak sekedar menjadi pengikut, tapi ternyata miskin pemahaman.


Selamat Hari Kartini. Semoga tidak berhenti pada kebaya, sanggul, dan sepatu hak tinggi :)