The moment when you and your partner are at zero point on the same time. Too weak to lift each other up. Even to weak to lift yourself up.
And distance makes it worse.
Wednesday, February 18, 2015
Wednesday, December 3, 2014
Happy
D : Why did you let me leave you, just after 29 days of our marriage, for study in Australia?
G : Because I know that pursuing higher education has become your dream for a long time.
And seeing you happy makes me happy.
D : *berkaca-kaca*
But isn't it hard to live separately like this?
G : The good thing is... we learn to be more patient persons :)
Recalling this conversation reminds me that I am here to chase my dream, to be happy, whatever the results are. Thank's heaps, you, for teaching me about being happy and giving me so much happiness.
I LOVE YOU, to the moon back and forth 999,999 million times.
G : Because I know that pursuing higher education has become your dream for a long time.
And seeing you happy makes me happy.
D : *berkaca-kaca*
But isn't it hard to live separately like this?
G : The good thing is... we learn to be more patient persons :)
Recalling this conversation reminds me that I am here to chase my dream, to be happy, whatever the results are. Thank's heaps, you, for teaching me about being happy and giving me so much happiness.
I LOVE YOU, to the moon back and forth 999,999 million times.
Sunday, November 16, 2014
Sepi
Di dunia ini ada hal-hal yang tak bisa dikatakan. Tersangkut di kerongkongan. Berhenti di ujung lidah.
Penyebabnya bisa jadi banyak hal. Salah satunya karena kurang keberanian. Atau keinginan untuk tidak menyakiti. Padahal dengan tidak mengatakannya, justru melukai diri sendiri.
Ah.
Jika sudah begini, hambar adalah rasa yang ingin dikejar. Sehingga hal yang tak bisa dikatakan tidak lagi menjadi pikiran.
Atau tidur selama mungkin dan bermimpi mengatakan hal yang tidak bisa dikatakan dalam kenyataan. Bangun-bangun rasanya sudah lega, tak ada lagi beban.
Pengecut, bukan?
Aku kesepian.
Dan perkataan itu hanya tertulis di secarik kertas yang berakhir di kolong meja.
Lalu dunia entah mengapa terlihat lebih berwarna.
Sunday, October 19, 2014
inagurasi
dua puluh oktober dua ribu empat belas
ucapkan selamat datang pada siang-siang penuh kerja keras
sembari menyambut malam-malam dimana mata terpejam tapi otak terus diperas
jangan kira kami berdiam diri
jangan macam-macam, hanya itu pesan kami
janji segera diucapkan
amanat semoga ditunaikan
ucapkan selamat datang pada siang-siang penuh kerja keras
sembari menyambut malam-malam dimana mata terpejam tapi otak terus diperas
jangan kira kami berdiam diri
jangan macam-macam, hanya itu pesan kami
janji segera diucapkan
amanat semoga ditunaikan
Canberra, 20 Oktober 2014
Wednesday, October 15, 2014
Lelah
Mungkin aku sedang lelah dengan tujuan-tujuan ambisius: "Pasangan yang bisa membawa kita lebih dekat padaNya", atau "Pasangan yang kita gandeng sampai surga".
Bukan berarti aku tidak ingin.
Tapi aku butuh kau. Sekarang. Duduk di sebelahku, seraya berkata "Ini teh dengan sedikit gula." Lalu kau menatapku lamat-lamat. Sambil memegang tanganku kemudian kau bilang, "Semua baik-baik saja," dengan nirsuara.
Dan dalam sepersekian detik, keabadian menghampiri.
Canberra, 16 Oktober 2014
Saturday, August 2, 2014
Suatu hari di Bulan Agustus
Aku ingat ini hari pernikahanmu. Tapi aku sengaja tak
menghubungimu, setelah semalam kau kuganggu dengan video Koka Kola itu. HAHAHA.
Semoga semalam kamu tidak mimpi buruk :D
Ketidakmampuanku hadir di hari bahagiamu,
membuatku mengenang ratusan kilometer perjalanan kita. Dengan sepeda motor.
Taksi. Kereta. Bajaj. Dan tentu saja metromini dan angkutan kota Jakarta yang
kau hafal mati rutenya (oke aku berlebihan). Aku masih ingat perjalanan pertama
kita berdua. Kalo tidak salah ke Pantai Depok, Yogyakarta, tempat kita tumbuh
bersama. Mungkin itu pertama kalinya kita bicara panjang lebar tentang diri
masing-masing. Setelah itu kita seperti berjanji, akan melakukan perjalanan-perjalanan
selanjutnya.
Benar saja. Takdir kehidupan membuat kita
bertemu lagi di Jakarta. Di kota yang sama-sama kita maki. Sekaligus kita
rindui. Tempat kita dewasa bersama. Aku masih ingat betul, malam-malam panjang
diisi dengan curhat soal pekerjaan. Soal kawan sejawat. Soal keluarga. Soal orang-orang
yang datang lalu pergi sesuka hati mereka. Juga tentang
orang-orang yang terus tinggal dalam hati kita.
Kita mungkin jarang bertemu. Tapi kita
tahu, kita selalu ada untuk satu sama lain, dalam jeda waktu bertemu sepanjang apapun. Dalam kediaman selama apapun. Setelah hari ini, insha
Allah, kita dipertemukan kembali dalam perjalanan-perjalanan lain. Mungkin juga
dengan tambahan teman seperjalanan (if you know what I mean haha).
Pada suatu hari di bulan Agustus kau telah menggenapi setengah
dien-mu. Beruntungnya ia yang berhasil menempatkanmu disampingnya. Semoga
kalian terus bahagia!
Canberra, di tengah suhu 0o celcius.
![]() |
| Petualangan Dinci dan Wiwiw :D |
Sunday, July 27, 2014
Alumnus Ramadhan
Malam 1 Syawal 1435 H.
Tahun ini tidak mudik seperti yang
sudah-sudah. Saya memilih bertahan di Canberra karena sudah masuk minggu
kuliah. Mungkin ini Idul Fitri paling sunyi yang pernah saya lewati. Entah di
masa depan bagaimana. Jangan-jangan ini masih belum seberapa.
Di Australia tidak ada takbir keliling.
Sahut-sahutan takbir dari masjid atau mushalla saja tidak ada. Jangankan
takbiran, adzan pun tak pernah terdengar. Tapi saya tetap bersyukur, di acara
buka puasa di rumah Mbak Fina dan Mas Ulil tadi, jamaah pria selepas maghrib
mengumandangkan takbir selayaknya malam 1 Syawal meskipun sebentar. Takbiran
yang singkat itu berhasil membuat saya terdiam. Dan sekarang saya menangis.
Saya memang pura-pura kuat.
Sejak kemarin saya menyebalkan. Cepat sekali
emosi. Yang jadi korban adalah suami saya, orang yang paling sering saya ajak
bicara. Tentang hal yang penting, dan terlebih tentang hal yang kurang penting.
Dalam 3 hari, saya sudah 2 kali adu mulut dengannya. Akibat kekeraskepalaan
saya. Akibat perilaku saya yang defensif. Akibat kesedihan yang gagal saya
terjemahkan dengan baik.
Saya tahu ini “cuma” Idul Fitri. Saya jadi
ingat bahwa Papa dan Mama sudah berkali-kali tidak pulang menemui orang tua
mereka (ketika masih hidup) ketika Idul Fitri karena satu dan lain hal.
Sekarang adalah giliran saya. Maka seharusnya saya tak perlu merasa sedih
begitu rupa. Bukankah mengalami semua sendirian adalah salah satu inti
merantau? Dan sebagai orang yang mengklaim dirinya perantau, tak seharusnya saya
defensif yang akhirnya malah terekspresi
dalam sikap emosional tak tepat waktu dan tak tepat sasaran.
Jujur, selain kesedihan melewati Idul Fitri
sendirian, ini juga merupakan saat terlemah saya.
Nilai semester lalu yang kurang memuaskan
membuat saya gamang dalam melangkah, dan merasakan semua seperti dalam keadaan
hampir koma. Setengah sadar. Kaki saya belum bisa berpijak di tanah dengan
baik. Muncul pertanyaan-pertanyaan dalam
kepala. Apakah saya mampu? Dan lebih penting, apakah saya pantas?
Saya kembali ke Canberra dengan sebuah
beban besar di pundak, bahwa saya harus bisa menyelesaikan studi dengan baik,
sebagaimana rencana awal, 2 tahun dengan riset. Tapi semakin keras saya
berpikir bagaimana caranya, semakin kencang satu jawaban bergema dalam kepala
saya, “Lakukan yang terbaik yang kamu bisa!” Kalaupun saya tidak berhasil, ya
sudahlah. Itu adalah proses yang harus saya terima.
Saya memang bukan ‘lulusan’ Ramadhan yang
terbaik. Shalat tarawih tak lengkap. Tilawah kurang istiqomah. Tapi saat ini
saya paham, bahwa Ramadhan yang terbaik adalah Ramadhan yang menghasilkan
semangat untuk selalu berikhtiar memperbaiki diri di bulan-bulan setelahnya.
Memperbaiki diri dalam ibadah, juga dalam studi.
Mungkin saya bukanlah “lulusan terbaik”
Ramadhan. Tapi semoga saya bisa menjadi salah satu “alumnus yang baik” dari
bulan Ramadhan.
Saya pamit dulu, mau menelepon suami untuk
minta maaf :)
Semoga kita bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Taqaballahu minna wa minkum. Mohon maaf
lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1435 H.
Canberra, 27 Juli 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)
